You are here: Informasi Artikel Pengeringan Akar Parsial Untuk Tanaman Kentang
 
 

Pengeringan Akar Parsial Untuk Tanaman Kentang

E-mail Cetak PDF
Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 

Idealnya, untuk memperoleh hasil terbaik tanaman kentang ialah dengan pengairan penuh. Tetapi, bila pasok air sangat terbatas, efisiensi air bisa dilakukan dengan pengairan sekaligus pengeringan parsial sisi bersebelahan akar kentang. Hasil panennya ternyata tidak mngecewakan dalam volume maupun mutu.

Teknik pengairan demikian yang dikenal sebagai pengeringan akar parsial (partial root drying) sudah terbukti manfaatnya untuk budidaya kentang sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kentang Internasional (CIP) yang bermarkas di Lima, Peru. Teknik penghematan air bisa berkisar 50-75% dengan hasil yang cukup memuaskan. Bahkan dengan mutu umbi kentang yang cukup tinggi.

Pimpinan Divisi Sistem Produksi dan Lingkungan CIP, Roberto Quiros mengatakan teknik pengairan semacam itu sebenarnya sudah berhasil diplikasikan pada tanaman buah seperti tomat, anggur dan jeruk. Namun, untuk aplikasinya pada tanaman umbi-umbian dan akar-akaran terutama pada budidaya di lingkungan lahan kurang subur (semi arid) yang sulit air, belum pernah dilakukan sebelumnya. Teknik tersebut telah dicoba dan berhasil pada tanaman kentang yang ditanam diatas alur.

Miguel Malaga dari Universitas Nasional La Molina, Peru yang ikut dalam penelitian tersebut mengatakan teknik tersebut sangat sederhana. Hanya diperlukan adaptasi sistem pengairan yang memungkinkan pembasahan/pengairan dan pengeringan secara bergantian zona akar bersebelahan (di sisi kiri dan kanan barisan tanaman di atas alur)

Diantara sejumlah perlakuan yang dicoba pada penelitian itu ialah pengairan bergantian kedua sisi akar menggunakan 50% dan 25% kebutuhan volume normal (100%) pengairan pada setiap waktu siklus/jadwal pengairan. Pada pengairan 50% yang berarti secara keseluruhan merupakan penghematan air 50%, hasil umbi kentang yang diperoleh hanya turun seperempat dibanding pada pengairan normal/penuh (100%). Sedangkan pada pengairan 25% yang berarti penghematan 75% air, hasil hanya berkurang sepertiga dari pengairan penuh normal. Yang terakhir ini dinilai sebagai penggunaan air yang sangat efisien.

Selain hasil yang jumlah volumenya per satuan luas masih bisa dinilai baik dalam kondisi kurang air, ada berbagai manfaat menguntungkan teknik pengairan parsial bergantian bagi tanaman, waktu panen dan pada hasilnya. Pengairan parsial merangsang perkembangan perakaran sehingga akar lebih efisien dalam menyerap air dan hara. Tanaman lebih cepat mengakumulasi karbohidrat pada umbi sehingga waktu panen bisa datang lebih cepat.

Dan, menyangkut mutu hasil, ukuran umbi hasil pengairan parsial hemat air 50% dan 75% itu tidak berbeda dengan hasil dari pengairan normal. Padahal, kekurangan air pada teknik pengairan biasa umumnya menghasilkan ukuran umbi yang lebih kecil. Umbi yang dihasilkan juga mengandung kadar bahan padatan (dry matter) yang lebih tinggi sehingga lebih cocok untuk dijadikan keripik kentang karena penyerapan minyak yang lebih sedikit pada waktu penggorengan. Keripik kentang yang dihasilkan akan lebih jernih dengan warna yang seragam.

Roberto Quiroz menilai pengairan parsial bergantian untuk tanaman kentang merupakan teknik pengairan alternatif yang cukup baik diaplikasikan di daerah yang ketersediaan air terbatas ataupun di lahan-lahan yang salinitas tanahnya menjadi masalah.

Mengenai pengaruh yang terjadi pada proses dalam tanaman, diutarakan bahwa pada pengeringan akar secaraparsial, akar memproduksi bahan kimia asam abscisic (abscisic acid) yang efeknya mengurangi pembukaan stomata (pori) daun sehingga penguapan berkurang. Pada waktu yang sama pada akar yang diairi, akar menyerap air yang cukup untuk kebutuhan tanaman. Stomata berfungsi ganda, yakni untuk menyerap karbon dioksida dari udara yang dibutuhkan untuk metabolisme serta mengendalikan kehilangan air dari daun. Dengan demikian, respon biokimia terhadap stres air bisa dipisahkan dari efek-efek fisik oleh kurangnya air yang tersedia. CIP/Ols.

Sumber: Tabloid Sinar Tani, Edisi 4-10 Pebruari 2009 No. 3289 Tahun XXXIX