You are here: Informasi Artikel PENGUJIAN BENIH DI LABORATORIUM
 
 
E-mail Cetak PDF

Pengujian benih sangat berperan penting, terujinya benih berarti terhindarnya para petani dari berbagai kerugian yang dapat timbul dalam pelaksanaan usaha taninya. Selain itu benih yang baik atau unggul ditunjang dengan kultur teknik yang mantap, akan dapat meningkatkan berbagai produk pertanian (Kartasapoetra, 2003). Pengujian benih ditujukan untuk mengetahui mutu dan kualitas benih. Informasi tersebut tentunya akan sangat bermanfaat bagi produsen, penjual maupun konsumen benih. Karena mereka bisa memperoleh keterangan yang dapat dipercaya tentang mutu atau kualitas dari suatu benih (Sutopo, 2002).

Secara historis pengujian benih pertama kali dilakukan pada tahun 1869 ketika Profesor Friedrich Nobbe mendirikan laboratorium benih pengujian pertama di Saxony Jerman, yang kemudian dengan segera diikuti oleh laboratorium di Austria, Hungaria, Belgia, Denmark, Rusia dan Amerika Serikat. Pada tahun 1876, Nobbe menerbitkan bukunya yang terkenal berjudul "Handbook on Seed Testing", pendahulu dari "International Rules for Seed Testing " yang sekarang membentuk dasar pengujian benih di hampir seluruh dunia, hingga pada tahun 1924 kemudian didirikan International Seed Testing Association (ISTA) yang secara resmi menerbitkan peraturan tentang pengujian benih secara internasional.

Mengapa benih diuji?
Dari keseluruhan biaya produksi pertanian, biaya untuk membeli benih biasanya secara proporsional relatif kecil, oleh karena itu penggunaan benih yang berkualitas tinggi adalah investasi yang bijaksana. Pengujian benih memainkan peran penting pada banyak tahapan, mulai dari panen hingga benih ditabur dan informasi yang tertera pada sertifikat/label benih dapat membantu sebagai bahan pertimbangan untuk memutuskan beberapa hal seperti misalnya :
• Apakah proses sertifikasi benih tersebut layak dilakukan atau sepadan dengan hasilnya, ataukah lebih baik dijual untuk konsumsi saja?
• Apakah sebagian besar atau seluruh benih yang akan diproduksi dapat terjual dengan harga yang layak, dalam artian keuntungan yang akan diperoleh sepadan dengan upaya dan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi?
• Apakah benih yang akan diproduksi sesuai dengan kebutuhan konsumen, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas? dsb

Uji Perkecambahan
Suatu pengujian perkecambahan di laboratorium mengukur proporsi benih yang mampu menghasilkan bibit yang normal, yaitu bibit yang menunjukkan kemampuan untuk tumbuh dan menghasilkan tanaman yang berguna pada kondisi lingkungan yang menguntungkan. Hasil pengujian tersebut juga akan melaporkan proporsi bibit yang abnormal, benih yang masih segar dan / atau benih keras dan benih mati.

Analisis Kemurnian
Analisis kemurnian benih merupakan kegiatan-kegiatan untuk menelaah tentang kepositifan fisik komponen-komponen benih termasuk pula persentase berat dari benih murni (pure seed), benih tanaman lain, benih varietas lain, biji-bijian herba (weed seed), dan kotoran-kotoran pada masa benih (Sutopo, 2002).
Yang termasuk dalam kategori benih murni adalah meliputi semua varietas dan setiap species yang diakui sebagaimana yang dinyatakan oleh pengirim atau penguji di laboratorium, dan biji yang masih utuh meskipun berukuran lebih kecil dari ukuran normal, belum terbentuk sempurna, keriput, terkena penyakit atau telah tumbuh. Selain itu benih yang patah atau rusak masih tergolong sebagai benih murni asalkan berukuran lebih besar dari setengah ukuran sebenarnya. Analisis Kemurnian hanya mencari seberapa banyak persentase benih dalam beberapa kriteria seperti tersebut di atas dalam suatu contoh benih, sedangkan kemampuan benih untuk tumbuh dan berkembang tidak termasuk dalam materi yang diuji.

Yang termasuk dalam kategori benih tanaman lain akan mencakup semua benih dari tanaman pertanian yang ikut tercampur dalam contoh dan tidak dimaksudkan untuk diuji.

Yang termasuk dalam kategori biji-bijian herba/gulma adalah merupakan bji dari tanaman lain yang tidak kehendaki, dan bublet, tuber dari tanaman yang dinyatakan sebagai gulma, herba menurut undang-undang, peraturan resmi atau pendapat umum.

Kotoran benih terdiri dari semua materi asing dalam sampel termasuk bagian/serpihan tanaman, tanah, pasir, batu, tubuh jamur serta semua materi dan struktur yang tidak secara khusus diklasifikasikan sebagai benih murni atau biji lain.

Pada pelaksanaan pengujian kemurnian benih dimana komponen-komponen telah berhasil dipisah-pisahkan, yang merupakan hasil-hasil uji benih murni, benih tanaman lain dan atau varietas lain, biji-bijian herba, serta benda-benda mati atau kotoran, selanjutnya masing-masing harus ditimbang dengan seksama dengan contoh kerja dalam satuan gram (Kartasapoetra, 2003)

Dari hasil analisis akan terungkap apakah benih itu memenuhi persyaratan sertifikasi atau tidak, atau apakah mengandung benih dari spesies tertentu yang mungkin telah dinyatakan berbahaya atau dilarang di daerah tertentu atau pasar, atau memerlukan pengolahan lebih lanjut untuk meningkatkan kualitas lot benih secara keseluruhan.

Pengujian Kadar Air
Kadar air benih selama penyimpanan merupakan faktor yang paling mempengaruhi masa hidupnya, maka benih yang sudah masak dan cukup kering penting untuk segera dipanen, atau benihnya masih berkadar air tinggi yang juga harus segera dipanen. Kadar air yang terlalu tinggi dapat menyebabkan benih berkecambah sebelum ditanam. Sedang dalam penyimpanan menyebabkan naiknya aktivitas pernapasan yang dapat berakibat terkuras habisnya bahan cadangan makanan dalam benih. Selain itu merangsang perkembangan cendawan patogen di dalam tempat penyimpanan. Tetapi perlu diingat bahwa kadar air yang terlalu rendah juga akan menyebabkan kerusakan pada embrio (Justice dan Bass, 2002). Selain itu terdapat juga dua faktor eksternal yang cukup penting dan berpengaruh pada panjang pendeknya umur benih, yaitu suhu dan kelembaban relatif lingkungan di mana benih disimpan dan kedua faktor ini saling bergantung. Benih bersifat higroskopis yaitu benih secara otomatis akan menyeimbangkan kadar kelembabannya dengan lingkungan tempat penyimpanannya, sehingga jika benih disimpan dalam suatu tempat dengan kondisi kelembaban yang relatif tinggi akan menyerap kandungan air dari lingkungan sekitarnya dan menyebabkan kadar air benih juga menjadi tinggi.

Kualitas benih yang disimpan dengan kadar air yang relatif tinggi akan lebih cepat mengalami penurunan dibanding dengan benih yang berkadar air rendah. Ada sebuah rumusan mengenai hal ini, yaitu untuk setiap penurunan kelembaban sebanyak 1% atau pengurangan suhu sebanyak 5ºC, lama simpan benih akan meningkat dua kali lipat.

Pengujian kadar kelembaban benih di laboratorium pengujian benih akan dapat mengindikasikan apakah perlu dilakukan proses pengeringan benih lebih lanjut sebelum disimpan, atau dapat juga mengindikasikan bahwa kadar kelembaban benih tersebut sudah sesuai dengan pesyaratan.


Menurut Sutopo (2002), pada prinsipnya metode yang digunakan dalam menentukan kadar air ada dua macam yaitu :

a.    Metode praktis; metode ini mudah dilaksanakan tetapi hasilnya seringkali kurang akurat karena rentang nilai hasil pengujian dari beberapa kali ulangan seringkali terlalu besar, yang termasuk metode ini adalah metode Calcium carbide, metode Electric moisture meter, dan lain-lain.

b.    Metode dasar; dalam hal ini kadar air ditentukan dengan mengukur kehilangan berat yang diakibatkan oleh pengeringan/pemanasan pada kondisi tertentu, dan dinyatakan sebagai persentase dari berat mula-mula, yang termasuk dalam metode dasar adalah metode Oven, metode Destilasi, Metode Karl Fisher dan lain-lain.

Uji Daya Kecambah (Viabilitas)
Pengujian viabilitas benih dipakai untuk menilai suatu benih untuk dipasarkan atau membandingkan antar seed lot karena viabilitas merupakan gejala pertama yang tampak pada benih yang menua. Daya kecambah benih memberikan informasi kepada pemakai benih akan kemampuan benih tumbuh normal menjadi tanaman yang berproduksi wajar dalam keadaan biofisik lapang yang serba optimum (Kuswanto, 1996).

Metode perkecambahan dengan pengujian di laboratorium hanya menentukan persentase perkecambahan total. Pengujian ini dibatasi pada pemunculan dan perkembangan struktur-struktur penting dari embrio, yang menunjukkan kemampuan untuk menjadi tanaman normal pada kondisi lapangan yang optimum. Sedangkan kecambah yang tidak menunjukkan kemampuan terssebut dinilai sebagai kecambah yang abnormal. Benih yang tidak dorman tetapi tidak tumbuh setelah periode pengujian tertentu dinilai sebagai mati (Sutopo, 2002).

Pengujian viabilitas terhadap suatu varietas perlu dicari metode standar agar penilaian terhadap atribut perkecambahan dapat dilakukan dengan mudah. Kita mengenal beberapa metode pengujian yang dapat dipakai untuk menguji viabilitas, yaitu :

a.    Uji di Atas Kertas
Pada metode pengujian ini benih diletakkan di atas kertas substrat yang telah dibasahi. Metode ini sangat baik digunakan untuk benih yang membutuhkan cahaya bagi perkecambahannya.

b.    Uji Antar Kertas
Pada metode pengujian ini benih diletakkan di antara kertas substrat. Metode ini digunakan bagi benih yang tidak peka terhadap cahaya untuk perkecambahannya.

c.    Uji Kertas Digulung Didirikan
Pada metode pengujian ini benih diletakkan diantara kertas substrat yang digulung dan didirikan. Dapat digunakan bagi benih yang tidak peka terhadap cahaya untuk perkecambahannya.

d.    Uji Tetrazolium
Uji tetrazolium (indikator cepat viabilitas benih) menggunakan zat indikator 2.3.5 Trifenil tetrazolium. Uji tetrazolium juga disebut uji biokhemis benih dan uji cepat viabilitas. Disebut uji biokhemis karena uji tetrazolium mendeteksi adanya proses biokimia yang berlangsung di dalam sel-sel benih khususnya sel-sel embrio. Disebut uji cepat viabilitas karena indikasi yang diperoleh dari pengujian tetrazolium bukan berupa perwujudan kecambah, melainkan pola-pola pewarnaan pada embrio yang akan terbentuk dalam beberapa saat saja setelah diterapkan, sehingga waktu yang diperlukan untuk pengujian tetrazolium tidak sepanjang waktu yang diperlukan untuk pengujian yang indikasinya berupa kecambah yang memerlukan waktu berhari-hari. Klorida/bromida yang larut dalam air digunakan untuk mengindikasi adanya sel-sel yang hidup. Bila indikator diimbibisi oleh benih ke dalam sel-sel benih yang hidup dengan bantuan enzim dehidrogenase akan terjadi proses reduksi sehingga terbentuk zat yang disebut trifenil formazan, suatu endapan yang berwarna merah. Pada sel-sel yang mati tidak terjadi reduksi dan tidak terbentu trifenil formazan sehingga warnanya tetap. Adanya pola-pola warna merah pada bagian-bagian penting pada embrio benih mengindikasikan bahwa benih mampu menumbuhkan embrio menjadi kecambah yang normal.

Kegunaan uji tetrazolium cukup banyak yaitu untuk mengetahui viabilitas benih yang segera akan ditanam, untuk mengetahui viabilitas benih dorman, untuk mengetahui hidup atau matinya benih segar tidak tumbuh dalam pengujian daya berkecambah benih. Uji tetrazolium sebagai uji vigor bisa dilakukan, dengan cara membuat penilaian benih lebih ketat untuk katagori benih vigor diantar benih viabel.Metode ini dapat dilakukan dengan cepat. Dalam metode ini benih tidak dikecambahkan tetapi hanya direndam dengan larutan tetra zolium selama satu jam dan kemudian dinilai embrionya. Prinsip dari metode ini adalah terjadi pengecatan bagian embrio, sebagai hasil oksidasi larutan tetrazolium. sehingga bagian embrio yang hidup akan berwarna merah sedangkan yang mati atau cacat akan berwarna putih.

e.    Uji Pada Pasir
Untuk pengujian viabilitas bisa dipakai pasir sebagai media perkecambahannya. Pada metode ini yang perlu diperhatikan adalah besarnya butiran pasir dan kadar air media, karena pasir memiliki WHC yang rendah (Kuswanto, 1996).

Yogyakarta,  18 Oktober 2011
Ditulis oleh : Satriya C. Priandoko, SP
Staf Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Pertanian
Dinas Pertanian Provinsi DIY
Jl. Gondosuli No. 6 Yogyakarta